Keadaan langsung berubah total sejak Adi Bing Slamet berkoar di media massa. Semua tuduhan Adi terhadap mantan guru spiritualnya itu langsung jadi berita, sehingga dalam waktu singkat, nama Eyang Subur terkenal di seantero Indonesia. Semua media, terutama infotainment, berlomba menggali berita berkaitan dengan ‘sosok misterius’ tersebut. Bahkan berita tentang Eyang Subur menyaingi berita tentang Kongres Luar Biasa Partai Demokrat di Bali.
Meledaknya pemberitaan tentang Eyang Subur sangat wajar dalam dunia jurnalistik. Soalnya, kasus ini memiliki nilai berita (news value) sangat tinggi karena memenuhi semua faktor nilai berita (read: Fakta dan Nilai Berita), sebagai berikut:
Faktor Aktualitas, kejadian ini benar-benar baru, baru terungkap dan bagi banyak orang merupakan kejadian baru. Yaitu, adanya ajaran menyimpang serta fakta tentang seorang lelaki tua memiliki istri delapan orang, tinggal serumah.
Faktor Kedekatan, peristiwa ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, baik secara fisik maupun secara psikis. Rumah Eyang Subur berada di tengah pemukiman penduduk kelas bawah di dekat Pasar Patra, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Persoalan yang diungkapkan Adi Bing Slamet juga tentang adanya ajaran sesat dan tentang bagaimana memperoleh kekayaan dengan cara mudah.
Faktor Dampak, dalam penentuan pemuatan suatu fakta menjadi berita, seharusnya faktor dampak menjadi pertimbangan utama. Kasus perseteruan Adi Bing Slamet dan Eyang Subur sebenarnya tidak memiliki dampak signifikan bagi masyarakat. Namun karena pernyataan Adi yang ingin ‘menyelamatkan masyarakat’ dari ‘pengaruh jahat’ Eyang Subur, maka seolah peristiwa ini memiliki dampak besar.
Faktor Keterkenalan, meledaknya pemberitaan ini sebenarnya karena faktor keterkenalan. Dari awal pengungkapan peristiwa sudah melibatkan Adi Bing Slamet, artis serba bisa yang sudah sangat dikenal masyarakat. Lalu muncul nama para pesohor dari Grup Srimulat, antara lain: Tessy, Nurbuat, Gogon, dan Tarsan. Juga muncul nama Permadi, Unang Bagito, Dono Warkop, Kholik, Pantomim Septian Dwi Cahyono, Ibu Subangun, Ratna Listy, bahkan Farhat Abbas.
Faktor Konflik, pengungkapan kasus ini diawali adanya konflik antara Adi Bing Slamet dan Eyang Subur, lalu berkembang menjadi konflik antara pendukung si Eyang dan pendukung Adi Bing Slamet. Kasus ini berkembang melibatkan Organisasi Pemuda Banten, FPI, lalu Polri dan MUI.
Faktor Keanehan, memang banyak faktor keanehan terdapat dalam kasus ini. Masyarakat ‘terbelalak’ mendapatkan fakta, selama ini ternyata banyak artis yang berguru ke ‘orang pintar’ untuk mendapatkan popularitas. Bahkan ada artis yang rela menceraikan istri karena ‘petunjuk’ Eyang. Juga cerita seputar ajaran sesat dan ilmu santet masih merupakan kegiatan aneh bagi sebagian besar masyarakat.
Faktor Seks, faktor ini juga sangat kental dalam kasus ini. Hal ini bisa dilihat dari keterangan Adi Bing Slamet, kalau si Eyang pernah menyuruh dia menceraikan istrinya agar bisa dinikahi oleh Eyang serta pengakuan beberapa orang yang mengamini keterangan Adi tersebut. Juga fakta kalau si Eyang memiliki istri hingga delapan orang, dua di antaranya bersaudara kandung dan seorang lagi mantan istri seorang pantomim terkenal, Septian Dwi Cahyo.
Faktor Human Interest, sampai saat ini masyarakat masih penasaran ingin mengetahui bagaimana kehidupan si Eyang? Bagaimana dia bisa mengatur hubungan dengan delapan istri dalam satu rumah? Juga bagaimana cara dia mendapatkan kekayaan yang berlimpah seperti itu?
Kita liat aja hasil battle antar Arya wiguna, Adi Bin Slamet dan tentunya pitt bossnya Eyang Subur...
Ikuti terus perjalanan mereka..See you next againn...


